Dalam dunia medis diabetes melitus terkenal dengan beberapa tipe. Tipe yang  masuk dalam kategori medis adalah tipe diabetes tipe 1, diabetes tipe 2 dan diabetes gestational. Adapun istilah diabet kering dan diabet basah adalah merupakan sebutan yang beredar di kalangan masyarakat awam.

Diabet kering seringkali merujuk pada kondisi dimana seseorang dengan tubuh kurus dan luka yang kering. Sementara untuk diabet basah lebih cenderung pada penderita diabet dengan badan yang gemuk dan luka yang basah dan susah sembuh.

Untuk urusan luka ini sebenarnya tergantung dari kadar tingginya glukosa dalam darah. Semakin tinggi gulanya akan semakin sulitlah untuk luka tesebut disembuhkan. Mari kita pelajari lebih jauh tentang berbagai tipe diabetes melitus ini.

Tipe-tipe diabetes melitus :

  • Diabetes melitus tipe 1. Diabetes tipe 1 ini lebih cenderung ke arah masalah autoimun. Kelainan genetik yang biasanya bawaan lahir. Dimana pada kondisi ini seseorang harus selalu diberikan suntikan insulin maupun pompa insulin untuk beraktifitas sehari-harinya.
  • Diabetes melitus tipe 2. Diabetes tipe 2 ini biasanya ditemukan karena adanya gaya hidup modern dan pola hidup yang tidak sehat. Berbagai macam makanan junk food seringkali menjadi penyebabnya. Aktifitas sehari-hari yang tidak mengindahkan olah tubuh juga memiliki peran penting akan terjadinya diabetes melitus tipe ini. Untuk tahap awal dokter biasanya akan menganjurkan pola hidup sehat dan olahraga sebelum memberikan terapi insulun dan obat-obatan antidiabetik oral.

Istilah yang berkembang di masyarakat tentang diabet kering dan diabet basah sebenarnya boleh-boleh saja. Siapapun berhak memberi sebutan untuk hal-hal yang mempermudahnya mempelajari sesuatu. Asalkan tidak memberikan pernyataan yang menyalahkan satu sama lain.

Kembali ke soal diabet kering ini, biasanya dilihat dari kadar gula yang tidak begitu tinggi dan masih dalam taraf terkendali sehingga luka di tubuhpun lebih mudah mengobatinya. 

Untuk diabet basah, dikarenakan lukanya basah dan susah sembuh maka diperlukan usaha ekstra untuk penyembuhannya. Selain mengotrol kadar gula darah, untuk luka yang telah terinfeksi diperlukan juga obat antibiotik untuk membunuh kumannya.

Jumlah anak yang mengidap autisme di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2015, diperkirakan 1 dari 250 anak terdiagnosa autisme. Maka dari itu, pada tahun tersebut diperkirakan terdapat sekitar 12.800 anak autis.

Meskipun demikian, Indonesia belum memiliki data yang akurat tentang jumlah anak autis setiap tahunnya. Hal ini tidak lepas dari minimnya kesadaran masyarakat Indonesia mengenai autisme.

Masih banyak orang tua yang tidak mengetahui dan malas berkonsultasi ketika anaknya menunjukkan gejala-gejala autis.

Hak Pendidikan Anak dengan Autisme di Indonesia

Meskipun kesadaran autisme di Indonesia masih minim, informasi penanganan autisme di Indonesia sudah meluas. Pusat-pusat terapi autisme mulai dibangun. Selain itu, terdapat juga seminar dari luar dan dalam negeri yang membahas autisme.

Dahulu autisme dianggap sebagai sesuatu yang tidak bisa berubah. Namun kini, gejala autisme bisa ditangani apabila diberikan perawatan yang sedini mungkin.

Lantas, bagaimana dengan pendidikan terhadap anak autis? UUD 1945 pasal 31 menyebutkan setiap warna negara berhak untuk mendapatkan pendidikan. Untuk anak autis, hak tersebut berupa pendidikan inklusi. Jadi, pendidikan yang digunakan ialah campuran dari pendidikan anak biasa dan pendidikan anak berkebutuhan khusus.

Meskipun sistem pendidikan menunjang kebutuhan penderita autis, dalam praktiknya masih terdapat hambatan. Contohnya ketika menyiapkan materi pelajaran yang sesuai serta mengajarkan anak bersosialisasi dengan lingkungannya.

Masalah Interaksi Sosial

Karena terlihat dan berperilaku berbeda, anak autis seringkali menjadi korban bullying. Hal ini juga sering terjadi karena mereka kesulitan berkomunikasi. Sementara itu, masyarakat juga belum sepenuhnya sadar akan penanganan autisme yang tepat.

Akibatnya, anak dengan autisme semakin kesulitan berinteraksi sosial. Terdapat ‘tembok’ penghalang yang membatasinya dengan lingkungannya.

Solusi Anak Terlambat Bicara

Terbatasnya kemampuan anak autis untuk berinteraksi terpengaruh dari kemampuannya berbicara. Akibat gangguan pada sistem sarafnya, mereka kesulitan berkomunikasi. Tidak heran, mereka kesulitan saat belajar berbicara.

Sebelum menunjukkan gejala yang parah, anak autis harus diberi penanganan yang tepat. Karena itu, dibutuhkan bantuan terapis bicara sebagai solusi anak terlambat bicara.